Perawatan Luka Dekubitus (Manajemen Pasien)

Perawatan luka dekubitus disesuaikan dengan derajat luka dekubitus yang terjadi. Luka dekubitus terjadi akibat kerusakan jaringan lokal akibat adanya tekanan dari luar dalam kurun waktu yang lama. Tekanan pada jaringan menyebabkan suplai aliran darah menjadi terhambat. Bila hal ini terjadi dalam waktu yang lama maka dapat mengakibatkan terjadinya insufisiensi atau penurunan aliran darah, atau iskemi jaringan yang dapat membuat kematian sel. Daerah yang berisiko mengalami luka dekubitus merupakan daerah yang sering mengalami tekanan seperti pada posisi terlentang yaitu bagian belakang kepala, sakrum dan tumit. Untuk posisi duduk yaitu daerah ischium atau koksik, dan untuk posisi lateral yaitu bagian trochanter.



perawatan luka dekubitus
Kasur Dekubitus

Manajemen Pasien dengan Perawatan Luka Dekubitus

Manajemen perawatan luka dekubitus dimulai sejak pertama pasien datang dan dirawat. Standar perawatan luka dekubitus meliputi tindakan berikut ini:

Mengkaji risiko pasien terhadap adanya luka dekubitus
Mengkaji risiko adanya luka dekubitus pada pasien dilakukan pada saat pasien masuk ke RS. Penilaian terhadap risiko luka dekubitus dibantu dengan menggunakan skala Braden dan Norton. Skala Braden telah diuji di Indonesia dan memiliki validitas yang sangat tinggi sehingga direkomendasikan untuk menilai risiko luka dekubitus.

Mengidentifikasi kelompok yang berisiko terhadap luka dekubitus
Kelompok usia lebih dari 60 tahun, pasien penderita patah tulang belakang, bayi dan neonatal merupakan kelompok risiko tinggi terhadap terjadinya dekubitus.

Mengkaji keadaan dari kulit pasien secara teratur
Pengkajian terhadap kulit pasien setidaknya dilakukan sekali sehari. Area yang dikaji adalah semua daerah di atas tulang yang menonjol. Perlu diingat bahwa daerah kulit yang menjadi berwarna kemerahan dan berada di atas tulang yang menonjol jangan melakukan pijatan keras karena dapat mengganggu perfusi jaringan.

Mengkaji status mobilitas pasien
Berbagai jenis pasien dirawat di RS. Untuk pasien yang lemah sebaiknya perawat atau keluarga membantu mereka melakukan reposisi. Pada saat memosisikan pada posisi lateral sebisa mungkin menghindari penekanan pada daerah trochanter secara langsung. Bila ingin menggunakan posisi lateral maka dapat menggunakan posisi lateral inklin 30. Posisi lateral inklin dapat membuat tekanan pada daerah menjadi lebih luas, sedangkan untuk menghindari luka yang terjadi pada bagian tumit maka dapat menggunakan bantal pada bawah kaki. Bantal juga disimpan pada daerah di antara lutut kanan dan kiri, mata kaki, di belakang punggung, dan di bawah kepala.

Meminimalkan terjadinya tekanan
Hal ini dapat dilakukan dengan menghindari menggunakan kasa yang berbentuk donat pada tumit, merendahkan kepala pada tempat tidur satu  jam setelah makan dan menentukan jenis matras yang sesuai untuk digunakan oleh pasien.

Mengkaji inkontinensia
Inkontinensia dapat membuat area menjadi lembap sehingga dapat menimbulkan maserasi. Ajari pasien untuk melatih kantung kemihnya.

Mengkaji status nutrisi
Pada pasien yang memiliki luka dekubitus biasanya memiliki Hb dan serum albumin yang rendah. Oleh karena itu, mesti dikaji nutrisi pasien meliputi berat badan, asupan makanan, nafsu makan, masalah pencernaan, masalah gigi, dan lain-lain.

Mengkaji luka dekubitus setiap ganti balutan
Hal yang perlu dikaji di antaranya ialah gambaran dari luka, stadium dari luka, kondisi kulit di sekitar luka, dan nyeri pada luka.

Mengkaji faktor yang menunda kesembuhan
Hal yang perlu dikaji ialah penyembuhan luka dan pemberian obat-obatan.

Mengevaluasi penyembuhan luka
Penyembuhan luka bergantung pada derajat luka yang dialami. Semakin ringan derajat luka yang dialami maka semakin cepat luka tersebut sembuh.

Mengkaji komplikasi
Kemungkinan komplikasi yang terjadi di antaranya ialah abses, bakterimia, osteomielitis dan fistula.

Memberikan pendidikan kesehatan pada pasien
Pendidikan kesehatan yang diberikan di antaranya ialah penyebab dekubitus, faktor risiko, dan cara untuk mengurangi dekubitus.


Oleh: Bidan Rina
Editor: Adrie Noor
Sumber: ncbi.nlm.nih.gov.com



Terima kasih untuk Like/comment FB :